Bahan Bakar Perpecahan

Bahan bakar paling marak yang dieksploitasi para politis comberan yang memimpikan kesemestaan kaliber, kadang tampil dalam sekumpulan pendukung fanatik yang mengganti perjalanan panjang ibadah menuju surga, dengan tujuan-tujuan pendek duniawi. Mempersepsikan agama dalam mitos ilmu kebal, kanuragan dan asihan serta menukar perangkat petunjuk yang begitu terang dan sempurna, menjadikannya kalimat kalimat terbaca tanpa kepedulian makna, terbunyikan tanpa melibatkan hati dan akal budi, menjadi semacam industri yang tak mengenal krisis dan karenanya harus dilestarikan.

Sepanjang masa kelompok ini adalah kayu bakar bagi api unggun dan batu urugan bagi altar kurban (mezbah) besar diatasnya.

Mereka semacam keabadian yang tak terpunahkan, mengalir terus dalam ketidaktahuan. Mereka adalah amuk pembelaan 

kepada para pemimpin yang lebih tepat disebut peternak manusia manusia bodoh atau pawang orang-orang buas di kota dan desa. Mereka keabadian harapan yang menggantung pada figur-figur semu yang tak pernah (mau atau mampu) memenuhi harapan, Karena telah diperkaya dengan sejuta baik sangka dan kekebalan yang luar biasa dari kemungkinan menangkap kelicikan para pemimpin. Selebihnya segelintir penjilat yang berharap kucuran kelebihan yang mengalir dari lelehan liur sang pemimpin sambil menakut-nakuti rakyat dengan berbagai uniform yang melambangkan kekuatan, kekebalan, kekuasaan dan ‘kesalehan’. Keatas menjilat, ke bawah menginjak. Bila perkubuan telah dimulai maka perang kesia-siaan tak terelakkan, cepat atau lebih cepat lagi. Menguraikan luka sejarah yang pedih dan berbau busuk.

Diterbitkan oleh Erwindalimunthe

Pendidik

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai