Bedah visi Al Fityan Dan Implementasinya Dalam Kegiatan Pendidikan di Lingkungan Sekolah

Visi Al Fityan
“Membangun Generasi Beriman yang Menguasai Ilmu Pengetahuan dan Mampu Menghadapi Tantangan Zaman “

1. Generasi Beriman
2. Menguasai Ilmu Pengetahuan
3. Mampu Menghadapi Tantangan Zaman

1. Generasi Beriman
    Ciri Orang Beriman
    a. Takut meninggalkan perintah Allah dan takut melakukan larangan Allah Subahanahu wata’ala
    b. Bertambah kuat keimanannya dengan mendengar, membaca dan mengkaji atau mentadabburi ayat ayat Allah
    c. Berserah diri dan menyerahkan segala urusannya kepada hanya kepada Allah setelah berupaya maksimal melaksanakannya.
    d. Mendirikan sholat dengan baik, dengan berupaya maksimal menghadirkan suasana khusyuk pada setiap sholat nya
     e. Senantiasa gemar menginfakkan hartanya baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit.
Sebagaimana firman Allah dalam surah Al Andal ayat 2 dan 3
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِ ذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَا دَتْهُمْ اِيْمَا نًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ 
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 2)

الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ 
“(yaitu) orang-orang yang melaksanakan sholat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 3)

2. Menguasai Ilmu Pengetahuan
Terkadang kita lebih yakin dan percaya dengan teori teori pendidikan yang berasal dari buah pikiran orang orang yahudi dan nasrani dari pada teori teori pendidikan yang digali dari Al Quran dan hadits  Rasulullah saw oleh para Ulama. Yang pada akhirnya bisa menjauhkan kita dari jalan yang benar.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰى ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَـكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ
“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 120)

3. Mampu Menghadapi Tantangan Zaman
Generasi yang terbaik adalah generasi yang memiliki  aqidah yang kuat, ilmu yang bermanfaat dan menguasai teknologi terkini.   Yang dapat membantu tugas seorang Khalifah yakni memakmurkan bumi dan mencegah kehancuran dan kerusakan bumi. Teknologi yang menjaga lingkungan bukan teknologi yang merusak lingkungan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فِ الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ وَا لْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّا سَ وَمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَآءِ مِنْ مَّآءٍ فَاَ حْيَا بِهِ الْاَ رْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ کُلِّ دَآ بَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَا لسَّحَا بِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ لَاٰ يٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 164)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلِ انْظُرُوْا مَا ذَا فِى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ وَمَا تُغْنِى الْاٰ يٰتُ وَا لنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُوْنَ
“Katakanlah, “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di Bumi!” Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman.”
(QS. Yunus 10: Ayat 101)

Implementasi visi Al Fityan dalam proses pendidikan dan tahanannya dalam setiap jenjang pendidikan

Pada Fase Pertama
Tingkat TK s/d SD kelas 2.

Fokus pendidikan pada jenjang ini adalah pembentukan karakter berupa keimanan yang membuahkan akhlak/afektif serta keterampilan untuk melatih motorik anak sedangkan Pengetahuan berfungsi menunjang pembentukan karakter dan melatih motorik anak.

Pada Fase ke dua
SD kelas 3 s/d SMP kelas 8

Fokus pendidikan pada fase ini adalah masih   berkaitan dengan Keimanan yang melahirkan Akhlak dan Keterampilan yang melahirkan Skill serta Pengetahuan yang melahirkan Pemahaman yang bermanfaat. Yang kombinasi keduanya dapat merangsang anak membuat sebuah teknologi sederhana.

Pada Fase ke Tiga
SMP kelas 9 s/d SMA 12

Fokus pendidikan pada fase ini Pengetahuan yang menguatkan Keimanan dan akhlak , Keterampilan yang menghasilkan skill yang bebasis teknologi tinggi dan informatika yang menghasilkan produk teknologi yang tepat guna dan ramah lingkungan.

Dengan pola pendidikan berkesinambungan semoga dapat menghadirkan Generasi yang Beriman yang Menguasai Ilmu Pengetahuan dan Mampu Menghadapi Tantangan Zaman.

Virus Takatsur dan Tanda Hilangnya Rahmat

Virus Takatsur dan Tanda Hilangnya Rahmat

ADA orangtua yang tinggal di sebuah pelosok desa sebagai petani dan penjual sate, bekerja keras tak kenal lelah, membanting tulang mencari nafkah. Ketika kembali pulang ke rumah, ia disambut oleh istri dan kedua anaknya dengan senyum yang tersungging di bibir. Maka seketika ia merasakan bahagia, kepenatan yang dirasakan sepanjang hari menjadi hilang dengan cepatnya. Ada orangtua yang menangis karena gembira demi melihat puteranya dilantik menjadi profesor termuda di salah satu perguruan tinggi terkenal di Jawa Timur. Selesai menerima penghargaan dari almamaternya, bapak tersebut tidak mampu menahan isak tangis di belakang kursi wisuda. Betapa pengorbanan yang selama ini dilakukan untuk keberhasilan anaknya tidaklah sia-sia.

Ia melupakan penderitaan selama bertahun-tahun demi masa depan buah hatinya. Itulah 1/100 rahmat yang dikaruniakan oleh Allah kepada sang bapak. Rela berkorban tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun, yang penting anaknya sukses. Ada pula cerita. Serombongan gajah mencari lokasi lain untuk mempertahankan kehidupan. Diantara mereka, salah satu induk gajah melahirkan anaknya dengan kaki cacat sebelah. Sementara gajah yang lain terus melaju, seolah-olah tak peduli dengan penderitaan kawannya. Gajah itu sendirian dikerumuni binatang buas yang siap menerkam bayi gajah.

Ia akhirnya meninggalkan anak yang baru saja dilahirkan, untuk menghindari ancaman binatang buas. Baru beberapa langkah menyusul rombongan, namun hatinya tidak tega membiarkan anaknya sendirian. Ia kembali mengelus-elus anaknya di tengah-tengah bahaya. Sehingga bisa berjalan dan diajak menyusul rombongannya. Induk gajah itu berani menghadapi ancaman, karena instingkasih sayang terhadap anaknya.

Jika kita mencermati kehidupan bangsa kita sekarang, seringkali melihat manusia itu tidak konsisten dalam memelihara rahmat yang diberikan oleh Allah kepadanya, berbeda jauh dengan hewan. Informasi anarki, kekerasan politik, pembunuhan, pemerkosaan, persaingan yang tidak sehat antar kelompok, pertentangan antar etnis dan elit politik serta berbagai kriminalitas lainnya menghiasi media cetak dan elektronik setiap hari.

Barangkali kita tidak heran bahwasanya akhir-akhir ini mendengar orangtua memperkosa anak tirinya, suami yang tega mencari wanita idaman lain di tempat kerjanya pada saat yang bersamaan keluarganya sedang menunggu kehadirannya di rumah dengan harap-harap cemas. Seorang istri tega berbuat serong bersama pria idaman lain yang kebetulan sebagai atasannya. Seorang wanita tega membuang anaknya yang baru saja dilahirkan. Karena hasil hubungan gelap dengan laki-laki lain.

Dimanakah gerangan 1/100 rahmat yang diturunkan Tuhan kepadanya? Apakah sifat itu sudah dicabut oleh-Nya? Ada ribuan pertanyaan. Persis dengan berbagai masalah, gejolak dan problem bangsa kita. Mengapa bangsa Indonesia yang dikenal murah senyum, pemaaf, sopan, rukun agawe santoso, tepo sliro, paternalistik, tahan menderita, tiba-tiba menjadi bringas dan kejam?

Efek Virus Takatsur

Dr. Yusuf Ali dalam tafsir “The Holy Qur’an”, mengatakan, bahwasanya penyebab hilangnya sifat rahmat pada diri manusia karena telah dihinggapi penyakit ruhani (mental) bernama takatsur (usaha menumpuk-numpuk harta, mengejar jabatan, memperbanyak pengaruh, massa dll). Menurut Imam Al Ghozali jika virus ruhani tersebut hinggap pada diri seseorang, maka akan melahirkan beberapa penyakit jiwa. Di bawah ini adalah tanda-tanda dari penyakit itu.

Serakah

Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”. Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.” (QS. Thoha (20) : 120-121 ). Pohon itu dinamakan Syajaratulkhuldi (pohon kekekalan), karena menurut syaitan, orang yang memakan buahnya akan kekal, tidak akan mati. Pohon ini dilarang Allah bagi yang mendekatinya. Ada yang menamakan pohon khuldi sebagaimana tersebut dalam surat Thaha ayat 120, tapi itu adalah nama yang diberikan syaitan.

Apa yang dilakukan Adam dan Hawa itu adalah sebuah tindakan serakah dan durhaka. Karena lupa, ia telah melanggar larangan Allah. Ia juga telah tersesat mengikuti apa yang dibisikkan syaitan. Kesalahan Adam a.s. meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamai durhaka dan sesat.

Dengki (Hasud)

Dengki adalah rojaa-u zawaali ni’mati al-ghoir (senantiasa berharap hilangnya nikmat pada diri orang lain). Dalam sejarah kehidupan manusia sifat buruk inilah yang menjadi penyebab pembunuhan pertama kali di dunia. Dilakukan putra seorang Nabi yang bernama Qobil dan Habil. Habil meninggal di tangan kakak kandungnya hanya karena persoalan wanita. Wajar jika Rasulullah mengingatkan kepada kita bahwa sifat hasud tidak sekedar mencukur rambut bahkan mencukur sendi-sendi agama. Beliau juga mengingatkan: “ Jauhilah oleh kalian sifat dengki, karena sesungguhnya dengki akan membakar seluruh kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.“ (al Hadist). Ummat ini akan menjadi baik selama tidak berkembang sifat dengki.

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang Sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia Berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah Hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maidah (5) : 27).

Takabur (Sombong)

Menurut Imam Al Ghozali puncak keruntuhan kepercayaan adalah syirik (menyekutukan Allah) dan puncak kerusakan akhlak adalah takabur. Takabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain (bathrul haq wa ghomthun Nas). Sifat warisan iblis inilah yang menjadikan anak manusia tidak pandai melihat kekurangan dirinya sendiri (intropeksi), tetapi lebih senang melihat kekurangan orang lain. Semua orang memiliki kans untuk bersikap sombong dalam profesi apapun.

Pernah suatu kali, ada peristiwa pertentangan antara pemulung di Surabaya. Awalnya hanya sebatas pertarungan mulut, kemudian berkembang menjadi adu fiisik. Salah seorang lawannya ada yang mengancam,

“Kamu harus berani mengambil resiko akibat peristiwa yang memalukan ini, tidakkah kamu mengetahui bahwa sayalah yang merintis profesi sebagai pemulung di sini?. Betapa jelas, bahwa pekerjaan sebagai pemulung saja bisa membanggakan asal usul dan rasa sombong. Apalagi pekerjaan yang lebih bergengsi dari itu.

“Dan (Ingatlah) ketika kami Berkata kepada malaikat : “Sujudlah kamu kepada Adam”, Maka mereka sujud kecuali iblis. ia membangkang. “(QS. Thoha (20) : 116). Allah sangat membenci kesombongan. Karena pada dasarnya manusia itu tempat salah dan lupa (al insanu mahalil khothoi wa an nisyan). Sekalipun manusia memiliki potensi yang baik tetapi dibatasi oleh berbagai kekurangan. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Allah tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga seorang yang dalam dirinya masih tersimpan sifat sombong sekalipun sedikit.

Dendam

Sifat ini sangat berbahaya baik secara individu maupun kelompok/kehidupan sosial. Karena sifat ini akan mendorong seseorang untuk menjatuhkan orang lain yang berbeda dengannya. Ia ingin melihat orang yang menjadi lawan politiknya celaka. Ia akan berusaha agar tidak ada orang lain yang menyainginya, baik dalam aspek jabatan, kekayaan, pengaruh, ilmu dll. Ia gembira jika melihat orang lain bernasib buruk, jatuh agar posisinya tetap eksis dan diakui orang lain.

Rasulullah mengingatkan kepada kita agar senantiasa waspada terhadap penyakit jiwa ini. Sebab penyakit ini akan mudah merusak pergaulan hidup. Sabda beliau: “Sekuat apapun seseorang, sebuah perkumpulan, sebuah negara akan hancur, jika dendam ini menjalar. “ Jika kita mencermati carut marutnya kehidupan manusia dari masa ke masa pokok pangkalnya adalah efek ketiga penyakit jiwa tersebut. Yaitu: serakah, dengki, sombong dan dendam.

Usaha yang terpenting dalam mengatasi gejolak sosial lanjut beliau, masing-masing individu dari anak bangsa ini mengembangkan tiga sifat berikut : Pertama, maafkanlah orang yang pernah berbuat zalim kepadamu (wa’fu man zhalamaka). Kedua, berilah kepada orang yang pernah menghalangi pemberian kepadamu (wa’thi man haromaka). Ketiga, sambunglah orang yang pernah memutuskan hubungan kepadamu (wa shil man qotho’aka). Jika sikap senantiasa memberi kepada siapa saja, apapun bentuknya pemberian itu, baik berupa materi dan immateri, menjalin silaturahim dan menyebarkan pintu maaf maka rahmat Allah akan senantiasa meliputi kehidupan mereka.

Resep Memelihara Titipan Rahmat

Dalam al-Quran Surat At-Takastur Allah SWT memberikan resep yang sangat jitu untuk merawat titipan rahmat dari-Nya. Pertama, ziarah Kubur Dengan ziarah kubur (rekreasi rohani) seseorang diingatkan tentang hakikat kesementaraan kehidupan. Apa saja yang menjadi kebanggaan kita di dunia, kekuasaan, harta, wanita, pengaruh, ilmu akan berakhir. Saudara yang menjadi kepercayaan kita bisa saja akan berkhianat. Sahabat karib yang kemarin menjadi mitra bergaul dan dialog ternyata menjadi seonggok mayat yang dibungkus kain kafan.

KH. A. Gimnastyar pernah mengingatkan dalam kuliah shubuhnya di RCTI, presiden Amerika lalu George W. Bush yang memimpin perang terhadap teroris, dan diindentikkan dengan kaum muslimin. Beliau mengatakan : Wahai presiden jangan berlagak sombong, apakah anda tidak menyadari bahwa kekuasaan yang sedang anda pegang tidak kuasa menolak kematian anda.

Rasulullah Saw. bersabda: “Aku pernah melarang kalian ziarah kubur, sekarang berziaralah karena ia mengingatkanmu tentang kehidupan akhirat.” (Al Hadits) Kedua, mempelajari Ilmu Fardhu ‘Ain (Syariat) Berbicara syariat kita jangan salah dalam memahaminya. Dalam islam syariat adalah ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya untuk kita. Didalamnya terkandung ibadah, aqidah dan akhlaq. Jadi tidak ada dichotomi antara syariat dan hakikat sebagaimana yang dipahami oleh kaum sufi.

Dengan ilmu syariat disamping mencerdaskan pikiran kita, sekaligus menata batin kita. Kecerdasan ruhaniah menghantarkan seseorang terampil dalam menarik hikmah di balik peristiwa kehidupan. Sehingga dia mampu bersikap arif dan bijaksana. Ahli hikmah mengatakan : Dunia adalah ladangnya ilmu (Ad Dunya Mazro’atul ilmi). Rangkaian kejadian dan fluktuasinya yang melibatkan kepentingan individu, kolektif akan menjadi bahan renungan, ilmu dan pengalaman. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Jika ketiga resep yang diberikan oleh al-Qur’an diatas kita laksanakan dengan baik, insya Allah gejala anarki, pembunuhan, pertentangan antar elite dan berbagai gejolak sosial yang lain akan segera berakhir. Insya Allah.

“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), Dan janganlah begitu, kelak kamu akan Mengetahui, Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.” (QS. At-Takatsur (102) : 3-5).

Ketiga, meningkatkan Rasa Tanggungjawab

Apapun yang dilakukan seseorang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah, kelak di kemudian hari. Apakah masa muda yang dimiliki dimanfaatkan untuk pengabdian, untuk apakah umur yang telah dihabiskan, ilmu yang dimilikinya sudahkah disumbangkan kepada yang memerlukan, harta yang dinikmati dari mana diperolehnya dan apakah telah diinfakkan. Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut akan kita jawab di akhirat kelak. Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjawab berbagai pertanyaan diatas dengan jujur dan tanggung jawab?

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur (102) : 8).

Kata Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin: Perbuatan ma’siat lahir yang harus dijauhi, yaitu yang dilakukan oleh anggota badan, mulut, kedua tangan, kedua kaki, kedua mata, kedua telinga. Semua anggota badan (yang merupakan karunia Allah SWT secara gratis) akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya kelak. Tujuh macam kejahatan yang dilakukan oleh tujuh anggota badan itu adalah :

· Mata, · Telinga,

· Lidah,

· Perut,

· Kemaluan,

· Tangan

· Dan kaki

Konon, karena itulah Allah SWT menjadikan tujuh macam neraka. Untuk tempat penyiksaan mereka yang melakukan kejahatan dengan salah satu anggota tubuh tersebut. Agar anggota tubuh sebagai media untuk menggapai kebahagiaan kehidupan dunia dan menyelamatkan kita di akhirat, maka harus disyukuri dengan cara digunakan untuk menyenangkan Yang Maha Memberikan.

Mata digunakan untuk melihat yang baik dan indah, jangan melihat yang haram. Telinga dipakai untuk mendengar bacaan al-Quran dan As-Sunnah, tidak untuk mendengarkan yang tercela, seperti ghibah, mengumpat dan menimbulkan fitnah, lidah untuk berzikir dan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak untuk menghasut, berdusta yang mengantarkan kepada kehancuran. Menjaga perut dengan diisi makanan halal, kemaluan (faraj) disterilkan dari zina, tangan dijauhkan dari membunuh, memukul, mencuri, memegang sesuatu yang haram, kaki hanya digunakan untuk mengerjakan ibadat. Tidak dibawa menuju ke tempat ma’siat. Demikianlah pendidikan akhlak versi Al-Ghazali.

Karena pada dasarnya anggota tubuh dijadikan oleh Allah SWT sebagai nikmat dan amanat. Mengelola nikmat dan amanat dengan di salah gunakan, merupakan kejahatan yang terbesar. Manusia harus menggunakan dan mengambil manfaat anggota tubuh untuk patuh kepada Allah SWT.

Memadukan Pendidikan Modern Dengan Pendidikan  Pada Masa Awal Islam

Memadukan Pendidikan Modern Dengan Pendidikan  Pada Masa Awal Islam

Oleh : Muhammad Erwin Dalimunthe, SSi

           Pendidik SMP Al Fityan Medan

Perbedaan Pendidikan di masa awal Islam dengan pendidian modern

Lembaga pendidikan

Pada masa awal Islam lembaga pendidikannya adalah Madrasah Rasulullah, Kurikulumya adalah Al Qur’an yang turun secara bertahap dan hadits rasul sebagai penjelasan dari Al Qur’an. Tempat pendidikanpada masa itu adalah rumah Arkom bin Abi Arkom dan masjid Nabawi dimana para sahabat mendengarkan Al Qur’an dibacakan dan hadits disampaikan. 

Pengajarnya adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang mengajarkan, mendidik, mengarahkan, mencontohkan, menegur kesalahan dan kadang memberikan sangsi  kepada para sahabanya yang kala itu juga sebagai peserta didiknya. Ini semua menjadi pelajaran bagi kita sebagai seorang pendidik. 

Adapun metode pembelajaran yang digunakan Rasulullah saat itu adalah 

  1. Membacakan Ayat Al Qur’an
  2. Menanamkan keimanan kepada Allah,Malaikat,kitab, Para Nabi, Hari Akhir dan Qoda serta Qadar 
  3. Mengajarkan Berbagai Ilmu dari Al Qur’an berupa Aqidah, Akhlak, Syari’ah, Sosial Kemasyarakatan, Kepemimpinan, Pemerintahan bahkan Perniagaan
  4. Mengajarkan Hakekat dari ilmu, berupa berbagai manfaat yang diperoleh baik secara ruhiyah, fisik maupun psikis. Baik manfaat di dunia maupunmanfaat di akhirat

Hal ini sesuai dengan QS. Al-Baqarah 2: Ayat 151

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كَمَاۤ اَرْسَلْنَا فِيْکُمْ رَسُوْلًا مِّنْکُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا وَيُزَكِّيْکُمْ وَيُعَلِّمُکُمُ الْكِتٰبَ وَا لْحِکْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ 

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.”

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 151)

Di awal perkembangan Islam lembaga pendidikan disebut dengan maktab, yang dilaksanakan di rumah guru-guru yang bersangkutan dan kurikulum yang diajarkan adalah  menulis dan membaca Al Quran , hadits dan sesuai bidang keahlian guru masing masing. Pada masa itu setiap guru memiliki karya berupa kitab ilmu yang dengannya ia mengajarkan ilmunya, Pada masa itu ilmu pengetahuan sudah berkembang diantaranya ilmu kedokteran, pertanian, geografi, astronomi, filsafat, fisika dan banyak cabang ilmu lainnya seluruhnya didasarkan dan terinsfirasi dari Al Qur’an dan hadits Rasulullah. Pada masa itu orang tua menyekolahkan anaknya berdasarkan bakatnya, sebagaimana imam syafii yang cerdas dan bakat serta kecendrungan terhadap ilmu agama ia pun berguru dengaan beberapa guru terkemuka sesuai dengan kecendrungannya itu. Imam Syafi’i berguru kepada Sufyan bin Uyainah dalam bidang ilmu hadis dan tafsirnya yang kemudian nanti akan tersempurnakan tatkala beliau pergi merantau ke Madinah dan berguru kepada Imam Malik bin Anas. Beliau juga mempelajari ilmu fikih kepada Imam Malik dengan mengkaji kitab al-Muwaththa’ yang merupakan karya besar Imam Malik diantara karya besar lainnya. Beliau juga  berguru kepada Syaikh Kholid azZanji, seorang guru yang sangat berpengaruh pada pendidikan Imam Syafi’i di Makkah.

Pada saat ini Pendidikan dilaksanakan oleh lembaga pendidikan berupa sekolah dimana guru dan pelajar bergabung dalam satu komunitas belajar mengajar. Sistem Pendidikan dan kurikulum yang digunakan sesuai dengan kebijakan pemerintah,Di indonesia dari dulu sampai sekarang kurikulum meliputi paket mata pelajaran yang diajarkan kepada siswa dari tingkat SD, SMP dan SMA. 

Di banyak sekolah swasta  ada yang memadukan muatan kurikulum DIKNAS dengan muatan lokal yang bernuansa relegius. Tapi tidak banyak sekolah yang menjalankan kurikulum dengan memperhatikan bakat siswa, walaupun hampir semua guru dan pelatih pendidikan sadar setiap anak memiliki bakatnya dan kecendrungannya masing masing.

Sebagaimana firman Allah

قُلۡ کُلٌّ یَّعۡمَلُ عَلٰی شَاکِلَتِہٖ ؕ فَرَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ بِمَنۡ ہُوَ اَہۡدٰی سَبِیۡلًا

Katakanlah (Muhammad),

“Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.

QS. Al Israa (Perjalanan Malam) – surah 17 ayat 84 [QS. 17:84]

Belajar dari kisah Muhammad Al Fatih Sang Penakluk, ayahnya Sultan Murad II sangat memperhatikan pendidikan anaknya, agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh.Beliau menunjuk Syekh Ahmad ibn Ismail al Kurani, seorang ulama yang faham sekali dengan Al Qur’an dan beberapa guru lain yang mendukung mewujudkan mewujudkan Muhammad Al Fatih yang Soleh , Cerdas dan Kuat . Tak heran sejak kecil Muhammad al-Fatih sudah menghafalkan Al-Quran 30 Juz, mempelajari hadits-hadits, mempelajari ilmu fiqih, matematika, ilmu falaq dan strategi perang.

Dari kisah ini, Orang tua dan sekolah harus mendeteksi, mengetahui dan memfasilitasi bakat anak, agar terwujud generasi hebat sesuai bakatnya masing masing. Generasi hebat terdahulu sudah melek bakat, memahami pentingnya sejak dini mengasah bakat anak agar kelak menjadi manusia hebat di bidangnya masing masing untuk berkolaborasi membentuk masyarakat dan peradaban yang hebat. 

Oleh karenanya tugas besar kita adalah menjadikan sekolah sebagai sarana pendidikan yang tetap mengacu pada SISDIKNAS, tapi tetap memperhatikan dan memfasilitasi bakat peserta didik. Jika hal ini bisa kita lakukan maka para peserta didik akan merasa bahagia dan nyaman serta berprestasi di bidangnya masing masing. Dan sekolah seperti ini adalah sekolah yang didambakan dan idam idamkan pelajar dan orang tua. 

Semoga tulisan singkat ini menjadi bahan diskusi kita untuk menjadi sekolah yang mampu memadukan sistem pendidikan modern dengan pola pendidika generasi terbaik terdahulu yang menghasilkan para ilmuan terkemuka dalam segala bidang. Dengannya pula kita tidak terlalu membebani peserta didik dengan segudang lelajaran yang harus dikuasaianya. Terlebih program mas menteri Nadim Makarim mengarah kesana yaitu program MERDEKA BELAJAR yang menyederhanakan administrasi pendidikan dan lebih mementingkan konten pendidikan yang menyiapkan generasi yang siap Berkarya. 

Ayah Bunda Ajarkan kepada anakmu Islam

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَوَصّٰى بِهَاۤ اِبْرٰهٖمُ بَنِيْهِ وَ يَعْقُوْبُ ۗ يٰبَنِيَّ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰى لَـكُمُ الدِّيْنَ فَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۗ ‏
“Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 132)

Tauladan dari Nabi Ibrahim A.S dan Nabi Ya’queen AS
    * Selalu Mengajak Berkomunikasi dan Dialog dengan Anak
    * Selalu Menasihati dan Mengingatkan anak untuk Mentaati Allah

* Mengajarkan Keimanan dan Tidak Menyembah selain Kepada Allah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ لُقْمٰنُ لِا بْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِا للّٰهِ ۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَـظُلْمٌ عَظِيْمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.””
(QS. Luqman 31: Ayat 13

* Mengingatkan Adanya Hari Pembalasan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰبُنَيَّ اِنَّهَاۤ اِنْ تَكُ مِثْقَا لَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْ فِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَ رْضِ يَأْتِ بِهَا اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ
“(Luqman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Mengetahui.”
(QS. Luqman 31: Ayat 16)

* Mengajarkan Dinul Islam

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِا لْمَعْرُوْفِ وَا نْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَا صْبِرْ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَكَ ۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُ مُوْرِ ۚ  
“Wahai anakku! Laksanakanlah sholat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.”
(QS. Luqman 31: Ayat 17)

* Istiqomah dalam ketaatan pada Allah Subahanahu Wata’ala dan mati dalam ketaatan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَا لَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْۤ اَرٰى فِى الْمَنَا مِ اَنِّيْۤ اَذْبَحُكَ فَا نْظُرْ مَا ذَا تَرٰى ۗ قَا لَ يٰۤاَ بَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيْۤ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.””
(QS. As-Saffat 37: Ayat 102)

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai